Posts

Showing posts with the label Perempuan

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu ~Sapardi Djoko Damono Telah Juni dan sedang hujan. Sudah sampai mana perjalananmu?

Perjalanan

Perjalanan menyimpan rahasia-rahasia. Di perjalanan akan terkenang kesedihan-kesedihan. Akan teringat kebahagiaan-kebahagiaan. Akan ditemui impian-impian. Sementara rumah menyimpan kelegaan. Perjalanan kali ini banyak melintas tentangmu. Mungkin karena kamu memiliki semua itu dalam perjalananku. Kesedihan, kebahagiaan, dan impian. Lalu aku memilih memeluknya untuk segera pulang.
“Karena kita beda. Aku benci kalimat itu.” “Kau ini, datang jauh-jauh hanya untuk mengomel.” “Kenapa beda itu jadi ukuran? Seolah-olah ada tembok. Semakin tinggi temboknya jika perbedaannya semakin banyak. Semakin gak boleh bersama.” “Kau lucu saat mengomel.” “Mengapa ukurannya harus sebanyak apa kesamaannya?” “kau tau bagaimana bentuk wajahmu saat mengomel?” “kenapa manusia menjadikan perbedaan sebagai pemisah?” “Matamu akan membesar, seluruh otot pipimu bergerak mengikuti irama ocehanmu, lalu sesekali wajahmu akan memerah saat kau menahan marah.” “kenapa dua orang yang berbeda harus berpisah?” “Meski sesungguhnya kau tak pernah benar-benar marah. Kau hanya seseorang yang selalu kritis akan sesuatu yang nampak tak nyaman dimatamu.” “Kenapa harus ada perbedaan?” “Dan kau tak akan berhenti bertanya sebelum aku mulai menjawab. Iya kan?” “Jawab saja pertanyaanku Mas...” “Dari sudut mana kau melihat perbedaan? Jika kau melihat perbedan sebagai pemisah, jurang d...

Story of jilbab

6 tahun silam sy memutuskan berjilbab. Entah karena hidayah apa. Ingin saja. Padahal kondisi saat itu baju yang panjang hanya segelintir. Pas-pas-an.  Mungkin juga karena sy dikelilingi para jilbaber yang secara tidak langsung mempengaruhi cara sy berjilbab hingga kini. Grateful to have you ukhti.. uhibbukumfillah Berjilbab itu keputusan. Buat sy keputusan yang agak mencengangkan. Hehe.. pandangan setiap orang tentang jilbab tentu berbeda. Sy hidup dalam lingkungan yang mengenakan jilbab untuk acara tertentu, pengajian atau melayat misalnya. Maka sy pun tak mengenal  jilbab sebagai suatu kewajiban saat itu. Ia hanya sekedar kain penutup kepala yang dipakai pada saat-saat tertentu saja. Iya... berjilbab itu pilihan. Pilihan yang tak perlu menunggu kesiapan. Kita tak akan pernah siap jika tak memaksakan diri untuk siap. Jika nanti takut buka pasang, itu bukan karna ketidaksiapan, tapi karna kita tak belajar memaknai jilbab. Jika takut karena merasa belum cukup baik, i...

Melepaskan. Dilepaskan (2)

Aku mencintaimu sejak dulu. Sejak remah roti pertama di ujung koridor kelas. Aku mencintaimu sejak dulu. Sejak malam dengan api unggun di rerumputan hijau halaman sekolah. Aku mencintaimu sejak dulu. Sejak hujan merapal harum aspal sepanjang perjalanan pulang. Sejak itulah aku mencintaimu. Dalam diam berkepanjangan. Dalam doa tak berkesudahan. Hari ini cinta itu masih sama. Bahkan mungkin semakin meninggi menembus mimpi. Tapi hari ini aku ingin mencintaimu lebih. Sejak pertama aku mencintaimu, aku hanya belajar tentang diam. Aku hanya belajar mencintai tanpa mengasa dalam rasa. Tapi aku lupa belajar tentang satu hal. Melepaskan. Maka biarkanlah kali ini aku memahami itu dengan cara ku. Jika kau tanya kenapa, akan ku jawab dengan sederhana. Karna kamu bukan milikku, bukan milik siapapun, kecuali Pencipta mu, Pencipta kita Aku tak sanggup bertingkah pemilik hingga lupa pada pemilik sesungguhnya. Kelak jika takdir baik mempertemukan kita, maka akan ada saatnya. Saat...

Melepaskan. Dilepaskan

Jadilah diam. Jadilah tenang. Jadilah prinsip. Jadilah ratu. Jadilah senyum. Jadilah bahagia. Berjanjilah. Akan baik-baik saja. Akan tetap menjalani hidup sebagaimana mestinya. Akan tetap menikmati hidup. Akan tetap ramai. Akan tetap utuh. Akan tetap berdiri. Akan tetap mendoakanku. Akan tetap percaya. Berjanjilah. Tidak akan ingkar. Tidak akan marah. Tidak akan menangis untukku. Tidak akan menyalahkan kisah. Tidak akan berhenti. Tidak akan patah. Tidak akan sendiri. Tidak akan lelah bermimpi. Meski tak lagi disini. Meski tak lagi kita. Meski tak lagi saling menggenggam. Meski kita harus kembali ke cerita semula. Ramadhan ke-4 1435 Hijiriah  call me soon if you read this.

tentang rindu

Hai Ri.... Aku merindukanmu belakangan ini. Tapi tak kunjung jemariku mengetik kalimat pesan pendek untuk mengobati rinduku. Aku rindu masa ketika kita menjadi bebas sebebas yang kita mau. Kita menjadi pelakon yang memainkan semua drama dengan alur yang kita ciptakan. Kita menjadi penikmat jalanan dengan pohon rindang dan terik matahari siang. Aku rindu Ri. Dan semakin rindu ketika ku tau. Jarak memisah dan waktu berlalu cepat. Tak ada lagi cerita tentang jalan panjang. Tak ada lagi kicauan tentang kehebatan dunia. Tak ada lagi diskusi tentang mimpi. Tak ada lagi cerita malam menjelang pagi tentang nostalgia masa SMA. Aku terlampau sibuk dengan rutinitasku. Dan kamu tenggelam dengan duniamu. Di sudut hati yang kita jalin, aku tau masih tetap ada namaku dalam doamu dan berbayang wajahmu dalam tengadah tanganku. Aku rindu.
Hari ini aku ingin pulang lebih cepat. Menemuimu, menanyakan kabarmu. Bolehkah? Sekali saja, aku menangis di pundakmu tanpa alasan. Hanya ingin menangis melepas semua lelah yang sudah aku endap sekian lama.

I'm Speechless :')

Seandainya kau dilahirkan nanti, ketahuilah bahawa dunia ini hanya sementara, janganlah kau leka mengejarnya, nanti kau akan kecewa diakhirnya. Seandainya kau dilahirkan nanti, akan ku didik dirimu dengan agamaNya agar kau sedar akan tugasmu, agar kau sedar akan dirimu. Seandainya kau dilahirkan nanti, akan ku didik dirimu menjadi mujahid, yang dapat membela agama, sehebat Salahudin Al-Ayubi,  sebijak Muhammad Al-Fateh. Seandainya kau dilahirkan nanti, akan ku didik dirimu mengenalNya, agar kau miliki rasa cinta padaNya, agar kau mencintaiku keranaNya. Seandainya kau dilahirkan nanti, akan ku benihkan cinta dalam hati mu, akan ku benihkan kerinduan dalam dirimu, cinta dan kerinduan buat KekasihNya, Muhammad. Seandainya kau dilahirkan nanti, akan ku didik dirimu dengan dakwah, agar kau mampu menjadi seperti matahari, membawa manusia makrifat kepadaNya.  Seandainya kau dilahirkan nanti, akan ku doakan kesejahteraan buatmu, di dunia...

Poligami

Image
Ho..ho.. Pokok bahasan yang satu ini sensitifnya luar biasa. *ngajak berantem* Waktu dibahas di kelas kemarin juga hasilnya begitu. Mau yang sudah nikah, mau yang belum nikah, hebohnya ngalahin suara orang sekampung. Sementara kaum Adam di kelas cuma bisa diem-diem ngangguk. Haha :D Yang berani menimpali cuma Pak Dosen, Om Ical, Om Is, Pokoknya yang sudah diakui ke'senior'an-nya di kelas. Selebihnya, kalem aja ya.. daripada kena semprot juga.. ;) Bismillah.. QS An-Nisaa,4: 3 Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.  (QS An-Nisaa,4 :3) Ilmu saya belum sampai sini, tapi tak ada salahnya bila kita lihat sisi poligami d...

Sebuah Tema

Jika cinta dalam diammu itu tak memiliki kesempatan  berbicara didunia nyata, biarkan ia tetap diam.. karena  Allah punya rencana terbaik untukmu.. jika dia bukan  milikmu, maka Allah akan menghapus cinta dalam diammu  itu dengan memberi rasa yang lebih indah dengan orang yang lebih  tepat.. Jadi, biarkan cinta diammu itu menjadi memori tersendiri disudut hatimu & manjadi rahasia antara kau  dengan Sang Pemilik hatimu. :') Sebuah tema,  sebuah hasil copasan. Here !

Ketika Hati Rindu Ingin Menikah

Berawal dari  note  seorang ukhti shalihah yang bertemakan kerinduan hati akan sunnah yang indah ini... Duh, katanya sih nikah itu sesuatu banget. Lha gimana ga sesuatu, yang dulunya dikecam jadi dipuji, yang dulunya haram jadi halal, yang dulunya dulunyaa.. he..he.. Well, balik lagi ke niat awal menulis artikel ini, meski diri belum menggenapkan separuh Diin, izinkan untuk berbagi.. semoga ada manfaatnya, kalopun nanti ada yang kurang berkenan dan salah mohon dimaafkan dan diluruskan.. ^_^ Ketika Hati Rindu Ingin Menikah, "Innamal 'amalu binniyat..."  setiap amalan -termasuk nikah- berkualitas tidak nantinya dimulai dari niat. Sepakat ya? sipks.. kalo penginnya asal nikah/asal laku/asal kagak mbujang biar ga malu sama temen-temen yang udah 'nyolong' start duluan ya kualitas keluarga yang dibentuk nantinya juga asal ada, asal jadi, asal-asalan. Na'udzubillahi min dzalik yaa Rabbana... Tapi kalau niatnya LILLAH -karena Allah semata-, kemudian caranya B...

Plan - Planning - Planned

Manusia yang berencana, tapi Tuhan yang berkehendak Kau tau rasanya? Ketika kalimat tanya itu kau utarakan. Rasanya bunga-bunga ditaman bermekaran semua walau lagi tak musim semi... *permisalan yang kolot :D Tapi saya, kami, kaum perempuan, sangat pandai mengalihkan perhatian, termasuk menjawab dengan "ala kadarnya" Lalu semua "kegilaan" ini kita rencanakan juga dengan cara yang "gila". Kau tau rasanya? Sepertinya kita berdua memang tau kemana seharusnya semua ini bermuara. Dan rasanya tak salah bila tetap bergantung pada-Nya. Biarkan Dia yang menjaganya. Biarkan dia yang menemani setiap langkah menuju kita. Ya! Kita. Tak lagi aku saja, kamu saja. :') And I do. Yes, I do. Untuk semua rencana baik Saat ini, besok, lusa, tahun ini, bahkan tahun depan.... Aula lt.5 #jalandiponegoronomordua 18:27, 22.02.2013 Second day IHT Malcolm Baldrige, Menunggu nasi goreng as dinner :D

Listen. Listener. #2

This is part 2. Saya mencoba menghilangkan diri sejenak, pada saat yang bersamaan ketika ternyata saya juga butuh untuk didengarkan. Ngomong sama tembok saja Nu! Saat rindu begitu menyesak. Saat menangis rasanya melegakan. Bukankah selalu begitu? Saat ku kira air mata dapat terkuras habis dan diam adalah pilihan terakhir. Dan tentu saja konsekuen dengan semua tanggung jawab! Face it Nu! Don't run (again)!! Saat Kak Ama dengan baik hatinya berkata: "kakak gak marah" Aih kak, maaf buatmu pusing kesekian kali. Dan untuk kembali menjadi listener, mungkin saya butuh waktu beberapa saat lagi. I'll call you dear. but not now. Mengertilah. :)

Kuch Kuch Hota Hai

Image
Saya juga gak tau kenapa tiba-tiba ingin membahas pokok bahasan yang satu ini. Mungkin karena terprovokasi kalimat Ms. Imbiciles di blognya. Kenapa bukan Aman? Dan seandainya Tina tidak mati, apakah Rahul akan menyadari cinta seorang Anjali? Pertama, Ini hanya cerita fiktif. Terjadi di dunia nyata? Who knows! Sayangnya kehidupan disekeliling saya tidak serumit itu. Kedua, Seandainya Tina tidak mati? Anjali akhirnya bersama Aman? Dan seterusnya… Maka cerita fiktif ini tak lagi menarik bukan? Atau dari sisi perfilman, tak lagi menjual. Sepertinya! Tapi Kakang Sahrukh tetep menarik kok #eh Ketiga, Bukankah kisah cinta ini cukup adil? Rahul mendapatkan cintanya kepada Tina, and vice versa with Tina. Anjali? Pada akhir cerita juga memiliki cintanya, Rahul. Aman? Aman tetap bahagia karena Anjali akhirnya bersama Rahul. Fair enough, isn’t it? Keempat, Jika masih tak adil juga untuk seorang Aman, paling tidak ia bukan pengenut principio de Romeo-Juliet. ...

but you chose to go!

Akhirnya kita berdebat. Atau sebut saja berbincang kalau tak ingin mengkonotasikannnya dengan negatif. Berbincang tentang hal yang sudah lama ingin ku katakan namun tertahan. Berbincang tentang pilihan-pilihan yang menurutku jalan pintas-lah yang menjadi pilihanmu. Marahkah? Itu pertanyaanmu. Ku ulangi lagi: tidak!! Tapi aku benci pilihanmu. Seandainya kamu adalah orang lain. Orang yang tak pernah aku kenal sebelumnya. Aku berharap aku lupa. Aku berharap aku tak mengenalmu, dan kalau perlu tak perlu mengkonfirmasinya. Sampai hati? Bagaimana dengan hatimu? Pernahkah bertanya apakah kamu sudah jauh lebih baik kini dengan apa yang kamu pilih, kamu jalani? Mungkin jalanku sudah begini. Itu katamu. Tapi buatku selalu ada jalan yang lebih baik. Andai kamu tau. Andai kamu menggunakan hatimu untuk menjalaninya. Andai! Andai! Andai! Aku marah? Anggap saja begitu. Kau jauh lebih tau tentang salah dan benar itu! kau akan membacanya? bahkan aku berharap begitu. Jauh lebih banyak yang...
Dearest nek… ngana pe kabar bagimana? Haha bagaimana rasanya hari ini? Hari terakhir menikmati 23. Masih betah sendiri? Lu banget! *gue juga Aih! Apa tak bimbang menuju angka berikutnya? Eh, wajar kan kalau berpikir ke sana? Bukankah siklus hidup memang begitu. Lahir, kanak-kanak, beranjak dewasa, menikah, punya anak, menuju tua, lalu mati. Serem amat yang terakhir tuh… Any plan in this 24 th ? Sudah ketemu pangerannya? Masih kesasar? Atau ketinggalan kompas di daerah bernama Buli? someone that you think it will be nice if you can spend the rest of your life with him. Any plan this year? Paling tidak menghabiskan waktu dalam dunia keartisan ini dengan menikmati sejenak keagungan-Nya. Alone or with close friends, sebelum kemana-mana harus izin suami dulu… :D Itu lagi.. itu lagi… *back to topic Bagaimana rasanya 23? …
“hampir 8 tahun loh…” Dan waktu berjalan secepat itu. “bahkan sms anti titik-koma-nya ana tau. Jangan pernah sembunyikan apapun dari ana” Perkenalan masa SMA itu, bagaimana bisa ia menjadi seperti sekarang. Yang aku ingat, kamu adalah orang pertama yang aku tak malu harus menangis mewek berdarah-darah #lebay Dan sekarang kamu sudah jadi ibu. Setelah melewati semua hari itu. Aku mencintaimu karena Allah ukhti. Bahkan aku tak yakin bisa seperti sekarang ini jika dulu kita tak dipertemukan. Aku tak punya lagi kalimat panjang. Kau yang paling paham. Kau yang paling tau. Atau mungkin suamimu itu yang punya jaringan luar biasa sehingga selalu tau akan kabarku. Kau tempat cerita yang paling menyenangkan. Kau yang terbaik :’) Peluk ciumku buat si kecil Ayyub. Maaf, Ama Nur belum sempat menjenguk. “ dan oleh-olehnya jangan lupa”. “iya. Tunggu gajian sekalian…” -_-'
tell me how?

Romeo versus Juliet

Image
Judul yang profokatif kan? Tau dong ceritanya! Intinya ketika kisah-kisah cinta waktu itu berakhir dengan happily ever after , maka kisah yang satu ini melegenda karena berhasil meng-endingkan ceritanya dengan: hanya maut yang memisahkan . Romantic, isn’t it? Pada zaman dua sejoli ini mungkin belum ada penyair romantis yang berani bersenandung: cinta tak harus memiliki . Bagi Romeo, bersama Juliet adalah harga mati, dan bagi Juliet lebih baik mati daripada hidup tanpa Romeo. Letak kebahagiaan keduanya adalah bersama selamanya. Terlepas dari kondisi apapun itu, apakah pilihan menyerah pada kematian jauh lebih baik daripada menantang kehidupan dengan janji yang lebih baik. Tapi nampaknya opsi pertama adalah pilihannya. Maka tak akan pernah ada kata bahagia jika tak bersama satu sama lain. Aih.. adakah kisah macam begitu di kehidupan sekarang? Lalu, bahagiakah mereka setelah berhasil ‘menyatukan’ visi cinta pada kematian? (QS Az-Zukhruf, 43: 67) “Teman-teman akrab ...