Posts

Showing posts with the label Warna

Belajar tertawa

Aku belajar pada mereka yang tertawa. Mereka memilih menertawakan masalah sebelum masalah menertawakan mereka. Karena saat itu masalah mampu menghilangkan tawa mereka. Mereka memilih menitipkan masalah melalui doa-doa. Karena doa-doa selalu melapangkan jalan keluar saat masalah sepertinya tak punya celah untuk keluar. Mereka memilih berbaik sangka pada masalah. Meski tentunya itu sulit. Karena dengan berbaik sangka mereka akan lebih mudah mengambil pelajaran dan bersyukur. Mereka memilih menjalani kesibukan-kesibukan. Sepi ditengah keramaian. Berbincang dengan angin tentang diri sendiri. Me time . Karena dengan begitu masalah akan lebih mudah dipahami dari sisi yang berbeda. Mereka memilih banyak ber muhasabah diri. Karena mungkin masalah adalah ajang ujian untuk naik kelas keimanan. Lalu mereka menjadi orang-orang yang banyak menebar tawa, banyak bersujud, banyak bersyukur, banyak ber tafakkur , banyak ber muhasabah . Aku belajar pada mereka yang seperti itu. Bukan...

suatu hari nanti

Berjanjilah Nu... akan baik-baik saja. Setelah semua ini selesai, setelah semua hutang ini lunas, setelah kamu, dan aku cukup berani menantang badai. Kita akan pergi berdua saja. Melanglang buana, melihat dunia, menatap langit, lalu bersyukur yang banyak. Bahwa hidup masih mengizinkanmu menapak mimpi. Selamat berjuang :') hingga lusa kita bertemu lagi, teruslah baik-baik saja. Aku akan selalu menyemat namamu dalam doa.

Story of jilbab

6 tahun silam sy memutuskan berjilbab. Entah karena hidayah apa. Ingin saja. Padahal kondisi saat itu baju yang panjang hanya segelintir. Pas-pas-an.  Mungkin juga karena sy dikelilingi para jilbaber yang secara tidak langsung mempengaruhi cara sy berjilbab hingga kini. Grateful to have you ukhti.. uhibbukumfillah Berjilbab itu keputusan. Buat sy keputusan yang agak mencengangkan. Hehe.. pandangan setiap orang tentang jilbab tentu berbeda. Sy hidup dalam lingkungan yang mengenakan jilbab untuk acara tertentu, pengajian atau melayat misalnya. Maka sy pun tak mengenal  jilbab sebagai suatu kewajiban saat itu. Ia hanya sekedar kain penutup kepala yang dipakai pada saat-saat tertentu saja. Iya... berjilbab itu pilihan. Pilihan yang tak perlu menunggu kesiapan. Kita tak akan pernah siap jika tak memaksakan diri untuk siap. Jika nanti takut buka pasang, itu bukan karna ketidaksiapan, tapi karna kita tak belajar memaknai jilbab. Jika takut karena merasa belum cukup baik, i...

Tuhan Maha Romantis ~ henoviqbal, OST Novel Tuhan Maha Romantis

Image
ku bicara pada udara yang tak pernah pahami rasa rindu setengah mati mendera hati ku bicara pada bulan purnama yang tak pernah selalu ada seperti dirimu, yang jauh dariku kini semua tlah usai jarak telah luruh rindu telah kita sulam menjadi temu Tuhan-lah yang Maha Romantis tuliskan kisah fantastis pertemukan kita, lalu bersemilah cinta Tuhan-lah yang Maha Romantis tuliskan kisah fantastis menyatukan gambar kita, dalam bingkai yang apa adanya ku bicara pada bulan purnama yang tak pernah selalu ada seperti dirimu, yang jauh dariku kini semua tlah usai jarak telah luruh rindu telah kita sulam menjadi temu Tuhan-lah yang Maha Romantis tuliskan kisah fantastis pertemukan kita, lalu bersemilah cinta Tuhan-lah yang Maha Romantis tuliskan kisah fantastis menyatukan gambar kita, dalam bingkai yang apa adanya ketika ekspresi rindu adalah do’a semua cinta adalah jalan surga Tuhan-lah yang Maha Romantis tuliskan kisah fantastis pertemukan kita, lalu bersemilah cin...

Melepaskan. Dilepaskan (2)

Aku mencintaimu sejak dulu. Sejak remah roti pertama di ujung koridor kelas. Aku mencintaimu sejak dulu. Sejak malam dengan api unggun di rerumputan hijau halaman sekolah. Aku mencintaimu sejak dulu. Sejak hujan merapal harum aspal sepanjang perjalanan pulang. Sejak itulah aku mencintaimu. Dalam diam berkepanjangan. Dalam doa tak berkesudahan. Hari ini cinta itu masih sama. Bahkan mungkin semakin meninggi menembus mimpi. Tapi hari ini aku ingin mencintaimu lebih. Sejak pertama aku mencintaimu, aku hanya belajar tentang diam. Aku hanya belajar mencintai tanpa mengasa dalam rasa. Tapi aku lupa belajar tentang satu hal. Melepaskan. Maka biarkanlah kali ini aku memahami itu dengan cara ku. Jika kau tanya kenapa, akan ku jawab dengan sederhana. Karna kamu bukan milikku, bukan milik siapapun, kecuali Pencipta mu, Pencipta kita Aku tak sanggup bertingkah pemilik hingga lupa pada pemilik sesungguhnya. Kelak jika takdir baik mempertemukan kita, maka akan ada saatnya. Saat...

Melepaskan. Dilepaskan

Jadilah diam. Jadilah tenang. Jadilah prinsip. Jadilah ratu. Jadilah senyum. Jadilah bahagia. Berjanjilah. Akan baik-baik saja. Akan tetap menjalani hidup sebagaimana mestinya. Akan tetap menikmati hidup. Akan tetap ramai. Akan tetap utuh. Akan tetap berdiri. Akan tetap mendoakanku. Akan tetap percaya. Berjanjilah. Tidak akan ingkar. Tidak akan marah. Tidak akan menangis untukku. Tidak akan menyalahkan kisah. Tidak akan berhenti. Tidak akan patah. Tidak akan sendiri. Tidak akan lelah bermimpi. Meski tak lagi disini. Meski tak lagi kita. Meski tak lagi saling menggenggam. Meski kita harus kembali ke cerita semula. Ramadhan ke-4 1435 Hijiriah  call me soon if you read this.

Confession

You never see the way I looking to your eyes |  You never realise the love I feel inside |  Pain and sorrow than haunted me |  Cause words are left unsaid to you Sebenarnya bingung juga lagu ini dari siapa ke siapa. Iya kan? Pada akhirnya kalimat penutup kemarin hanyalah sebuah tanya. "Kenapa sekarang? Tak sedari dulu?" Kalau pertanyaan ini sebenarnya bukan buatmu, tapi buatku sendiri. Pada saat itu aku hanya yakin pada jawabanku. "Demi dirimu sendiri, jangan karena aku" Entah kau mengerti, entah tidak. Yang pasti kita berdebat tak penting lagi. Like always :') Pada satu titik, aku akhirnya merasa kehilanganmu. Merasa kehilangan seseorang yang ku ingin selalu ada tanpa perlu lelah merasa. Entah kamu? Aku merunduk lagi, meraba jawaban. Adakah aku salah? Untuk mencari pembenaran atas apa yang ku yakini sebagai jawaban terbaikku. Sesungguhnya setiap  perbuatan   tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (aka...

Perjalanan yang akan berhenti pada saat kembali

Image
Suatu hari kamu akan berhenti. Berhenti pada dia yang membuat duniamu membeku hanya dengan menatap wajahnya. Berhenti pada dia yang akhirnya mengalihkan seluruh perhatianmu hanya untuk mengagumi senyumnya. Berhenti pada dia yang mampu membuatmu berikrar: "dengan dialah akan ku akhiri perjalanan pendek ini, dan ku mulai perjalanan panjang hingga akhirnya aku kembali"
Hari ini aku ingin pulang lebih cepat. Menemuimu, menanyakan kabarmu. Bolehkah? Sekali saja, aku menangis di pundakmu tanpa alasan. Hanya ingin menangis melepas semua lelah yang sudah aku endap sekian lama.

Cahaya Bulan

akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui apakah kau masih selembut dahulu memintaku minum susu dan tidur yang lelap sambil membenarkan letak leher kemejaku kabut tipispun turun pelan-pelan di lembah kasih lembah Mandalawangi kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram meresapi belaian angin yang menjadi dingin apakah kau masih membelaiku semesra dahulu ketika kudekap, kau dekaplah lebih mesra lebih dekat apakah kau masih akan berkata ku dengar detak jantungmu kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan yang takkan pernah ku tahu dimana jawaban itu bagai letusan berapi bangunkan ku dari mimpi sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati Cahaya Bulan, Soe Hok Gie Aku ingin semua kembali seperti biasa. Aku, kamu, dia, kita. Kembali seperti dulu. Saat hari minggu ter...

Surga itu bernama ujian

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS Al-Baqarah,2: 214) Beberapa minggu lalu aku memanjat sebuah do'a. Ternyata Allah tak mengabulkan. Aku mencoba bertanya kenapa, dan Allah pun memberikan jawaban pada ayat cinta-Nya diatas. Dan bersama do'a itu aku kemudian memahami. Dalam pandangan manusia terlihat sempit, sementara dimata Allah begitu lapang. Mungkin seperti begitulah beliau memahami, semua ujian ini hanya seperti jual beli biasa yang keuntungannya adalah Surga. Terbayar lunas bukan? Lalu aku kemudian bertanya lagi. Bagaimana denganku Allah? Bolehkah aku mengadakan ...
"Hai" "Hai... Apa Kabar?" "Entah" "Jawaban yang kurang tepat" "Hm....?" "Tak ada jawaban entah untuk pertanyaan apa kabar. Hanya ada baik atau tidak baik." "Aku tak tau" "Jawaban yang kadaluarsa" "Kamu masih seperti yang dulu. Sewot. Sok tau. Cerewet" "Dan kamu juga tak banyak berubah. Bagaimana kabarnya?" "Dan to the point" "Kamu tak mungkin menemuiku, well.. setelah sekian lama hanya untuk say hai bukan?" "Ada yang hilang... aku tak menemukan yang dulu aku rasakan?" "Bosan? Jenuh?" "Tidak sama sekali" "Mungkin karna kamu tidak mencari" "Should I?" Ada jeda yang cukup lama  "Sesungguhnya aku tak punya jawaban" "Percuma" "Tak ada yang sia-sia. Aku bisa bertemu denganmu. And more, kamu tak merindukanku?" "Menurutmu?" "Menurutku, kamu...
Terkadang kami, para anak-anak berada di antara dua hal. Satu sisi, keinginan orangtua untuk melihat kami 'berhasil' dan di sisi lain minimnya kepercayaan orangtua terhadap anaknya itu sendiri. setiap orangtua tentu saja ingin yang terbaik untuk anaknya, tapi buat mereka, anak-anak tetaplah kanak-kanak yang masih ceroboh dalam mengambil keputusan, suka seenaknya sendiri, ataupun masih suka santai bahkan dengan hal yang sangat serius sekalipun... anak-anak butuh kepercayaan penuh setara dengan support yang diberikan orangtua. bukan hanya materi tapi secara ruhani sesungguhnya lebih penting untuk membentengi 'kebebasan' yang bablas. you know what i mean... ketika orangtua menjadi protektif posesif, anak-anak akan menjadi terkekang bagai burung dalam sangkar #eh :D Lalu orangtua ngapain dong? Orangtua punya fungsi pengawasan, evaluasi, dan motivasi. Pengawasan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan kepercayaan yang telah di berikan pada anak-anaknya. Evaluasi ...

Energi Dakwah

Banyak orang yang keheranan. Ini anak kok gak ada capeknya. Senin sampai jum’at, pergi pagi pulang petang. Habis maghrib juga kadang masih ada ‘pekerjaan’. Sabtu minggu juga gak di rumah kecuali untuk nyuci tumpukan pakean seminggu berjalan. Rumah kadang-kadang jadi tempat singgah saja, untuk mandi dan istirahat, makan hanya makan malam saja yang disempatkan. Haha, sibuknya ngalahin presiden. Ngapain saja? Ya.. itu-itu saja. Rapat. Kajian. Dengerin ceramah, diskusi. Yang semua materinya tentang Agama dari a sampai z. Satu lagi yang gak boleh di-alpa-kan. Melingkar. ;) Itu semua belum termasuk dengan agenda dadakan yang tiba-tiba harus dilaksanakan. Termasuk jadwal kuliah yang kadang-kadang nubruk dan kemudian di absenkan <-- jangan di contoh :D Baiklah.. mungkin nampaknya tak sesibuk itu, hehe Rutinitas itu yang mungkin membuat orang terdekat sering kali bertanya. Terutama Mama (uhibbukufillah Umi :*) “Gak capek?” yang dari awalnya ngomel-ngomel, hingga akhirnya di...
Mereka seperti kembang api. Membuncah-buncah penuh rasa keingintahuan. Ingin tau tentang kebenaran dengan segala kepolosan. Ingin tau tentang keberadaan dunia yang terkadang membingungkan. Kau hanya perlu memilih yang baik, apabila terdapat dua yang baik, maka pilihlah yang lebih baik di antara keduanya. Mereka masih remaja yang terbawa masa kanak. Sehingga pertanyaan itu beruntun dan saling berebutan. Jadilah mereka kembang api yang berebutan muncul ke permukaan langit malam nan gelap. Memendarkan cahaya warna-warni. Indah. Dan membuat setiap yang melihat betah mendongak ke atas. Kelak mereka akan menjadi matahari, menerangi siang dan membagi cahayanya pada bulan untuk malam.

#tolakLGBT

Banyak yang akan kontra dengan hal ini. Mungkin merasa akan diperlakukan tak adil atau apalah, saya sendiri kurang mengerti. Tapi inilah jalan yang akan kami tempuh, satu niat kami, menyelamatkan saudara kami, negeri kami dari azab seperti kaum Nabi Luth a.s. Semoga 'mereka' mengerti... klik link  http://www.change.org/id/ petisi/ untuk-komnasham-tolak-pelegalan -lgbt-lesbian-gay-bisexual-tra nsgender  -> isi identitas -> klik tanda tangan -> sebarkan !!
Dari ‘Aisyah ra. saya berkata:  Saya bertanya kepada Nabi saw: “Pernahkah engkau mengalami penderitaan yang lebih berat dari perang Uhud?”  Beliau menjawab: “Sungguh, aku telah mendapat penderitaan karena (perbuatan) kaummu sedangkan yang paling berat adalah pada hari Aqabah. Ketika aku menyempatkan diri untuk mengajak putera Abd Jalil bin Kulal, ia tidak menyambutku sebagaimana harapanku. Kemudian aku pergi dengan perasaan sedih sekali dan tidak sadar. Namun sesampai di Qarnuts Tsa’alib aku sadar dan mengangkat kepalaku. Waktu itu aku dinaungi oleh awan. Setelah aku memandangnya, ternyata disitu ada malaikat Jibril as. ia memanggilku seraya berkata: ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala mendengar kaummu mencela dan menolak ajakanmu. Dan Allah mengutus malaikat penjaga gunung untukmu. Ia akan memenuhi apa saja yang kamu kehendaki untuk menyiksa mereka.’ Kemudian malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam seraya berkata: ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar u...

Marhaban Yaa Ramadhan...

Image
Image
And happy belated day to me.. Gak ada pinta khusus. Kalaupun ada, biar saya saja sama Allah yang tau :’) Menginjakkan kaki ke angka 23 itu rasanya sesuatu. Gak ada juga perayaan, kecuali makan-makan dadakan sama pasukan Remas yang entah kenapa malam itu membentuk Formasi 10. Ini beberapa kenangan yang mereka tinggalkan untuk mengingat angka 23 itu. Juga kue ulang tahun yang juga terlambat Selasa kemarin. Do’a. Satu kata itu selalu mengiringi setiap kejutan yang ada. Entah dalam kicauan, reply, sms, ucapan, kartu, atau mungkin dalam sujud panjang mereka. Semoga Allah melimpahkan yang sama :’) Terima kasih. 22.05.2013, 17.10 Diantara perkiraan angka-angka.

Draft

Hanya sebuah draft. Lama juga tak 'melampiaskan' uneg-uneg pada tuts keyboard. Apalagi musim hujan begini, Melownisasi merajalela... :') Tak ada yang istimewa, masih saja semuanya sama. Tumpukan berkas, deadline, rindu cuti, homesick, perkuliahan, bla.bla.bla dan sayangnya hingga detik ini berdamai dengan semua itu masihlah sulit. Sekian