Posts

Showing posts with the label Diary

Getting Old

"Kapan?" Hingga saya pun bosan dengan pertanyaan ini. Kadang dijawab seenaknya. Kadang dengan bercanda. Kadang sepenuh hati. Seringnya baper. Ingin bilang kalau seandainya saya punya jawaban yang pasti akan saya sampaikan dengan percaya diri. *lupakan* Apa bedanya masih 26 dan sebentar lagi 30? Masih 26 artinya berasa muda. Dan hampir 30 artinya berasa tua. Belakangan saya berada pada golongan yang kedua. Dulunya saya selalu di golongan pertama. Merasa usia hanyalah bilangan angka tak berarti. Walau pada akhirnya melihat kaki-kaki kecil berlari dan memakai seragam SD membuyarkan segalanya, I'm getting old. I am OLD *nyegir* Bukan karena tuntutan pertanyaan "kapan?" yang menjadi beban, tetapi menyadari keriput dan garis mata menghitam menyerang  bahwa tahun-tahun telah terlewati dengan begitu cepat tanpa ada banyak kenangan berarti. Mungkin. Ketika merasa melewatkan banyak hal. Kehilangan banyak hal. Melupakan banyak hal. Mengendapkan banyak hal. Meme...

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu ~Sapardi Djoko Damono Telah Juni dan sedang hujan. Sudah sampai mana perjalananmu?

Belajar tertawa

Aku belajar pada mereka yang tertawa. Mereka memilih menertawakan masalah sebelum masalah menertawakan mereka. Karena saat itu masalah mampu menghilangkan tawa mereka. Mereka memilih menitipkan masalah melalui doa-doa. Karena doa-doa selalu melapangkan jalan keluar saat masalah sepertinya tak punya celah untuk keluar. Mereka memilih berbaik sangka pada masalah. Meski tentunya itu sulit. Karena dengan berbaik sangka mereka akan lebih mudah mengambil pelajaran dan bersyukur. Mereka memilih menjalani kesibukan-kesibukan. Sepi ditengah keramaian. Berbincang dengan angin tentang diri sendiri. Me time . Karena dengan begitu masalah akan lebih mudah dipahami dari sisi yang berbeda. Mereka memilih banyak ber muhasabah diri. Karena mungkin masalah adalah ajang ujian untuk naik kelas keimanan. Lalu mereka menjadi orang-orang yang banyak menebar tawa, banyak bersujud, banyak bersyukur, banyak ber tafakkur , banyak ber muhasabah . Aku belajar pada mereka yang seperti itu. Bukan...

suatu hari nanti

Berjanjilah Nu... akan baik-baik saja. Setelah semua ini selesai, setelah semua hutang ini lunas, setelah kamu, dan aku cukup berani menantang badai. Kita akan pergi berdua saja. Melanglang buana, melihat dunia, menatap langit, lalu bersyukur yang banyak. Bahwa hidup masih mengizinkanmu menapak mimpi. Selamat berjuang :') hingga lusa kita bertemu lagi, teruslah baik-baik saja. Aku akan selalu menyemat namamu dalam doa.

Perjalanan

Perjalanan menyimpan rahasia-rahasia. Di perjalanan akan terkenang kesedihan-kesedihan. Akan teringat kebahagiaan-kebahagiaan. Akan ditemui impian-impian. Sementara rumah menyimpan kelegaan. Perjalanan kali ini banyak melintas tentangmu. Mungkin karena kamu memiliki semua itu dalam perjalananku. Kesedihan, kebahagiaan, dan impian. Lalu aku memilih memeluknya untuk segera pulang.

lelaki oktober pada februari

Belum jua oktober. Tapi aku merindukanmu lebih awal. Mungkin karena begitu banyak hal yang terlewat. Kaki-kaki mungil yang kini dapat berlarian mengelilingi rumah. Ocehan-ocehan yang dulu tak bermakna kini bisa ku ajak bicara. Lebih-lebih ketika mimpi terajut satu-satu. Semoga kau bangga melihatku berdiri sekarang. Meski masih goyah. Meski sesekali aku ingin berhenti.

Selamat Hari Lahir Lelaki Oktoberku

Image
Untuk dia yang mencintaiku dengan utuh. Seutuh rinduku padanya hari ini. Seutuh kenangan pada lebih dasawarsa silam. Untuk dia yang mencintaiku dengan tulus. Setulus peluh atas seluruh perjuangannya untukku. Setulus senyum di 13 tahun lalu. Untuk dia yang mencintaiku sejak pertama. Lelaki yang tak sempurna namun sempurna mencintaiku. Lelaki biasa yang cintanya membuatku merasa hebat. Lelaki yang dalam diamnya mencintaiku tanpa batas. Selamat hari lahir lelaki oktoberku. Lelaki yang membuatku jatuh cinta pertama kali dan berkali-kali.   Semoga Allah senantiasa mencintaimu. Melapangkan tempat tinggalmu. Menerangi dengan cahaya-Nya.  Hingga kelak kita berkumpul lagi di Firdaus-Nya, aku akan tetap menjadi perindumu. Peluk rindu, cahayamu ~ Nurul

Melepaskan. Dilepaskan (2)

Aku mencintaimu sejak dulu. Sejak remah roti pertama di ujung koridor kelas. Aku mencintaimu sejak dulu. Sejak malam dengan api unggun di rerumputan hijau halaman sekolah. Aku mencintaimu sejak dulu. Sejak hujan merapal harum aspal sepanjang perjalanan pulang. Sejak itulah aku mencintaimu. Dalam diam berkepanjangan. Dalam doa tak berkesudahan. Hari ini cinta itu masih sama. Bahkan mungkin semakin meninggi menembus mimpi. Tapi hari ini aku ingin mencintaimu lebih. Sejak pertama aku mencintaimu, aku hanya belajar tentang diam. Aku hanya belajar mencintai tanpa mengasa dalam rasa. Tapi aku lupa belajar tentang satu hal. Melepaskan. Maka biarkanlah kali ini aku memahami itu dengan cara ku. Jika kau tanya kenapa, akan ku jawab dengan sederhana. Karna kamu bukan milikku, bukan milik siapapun, kecuali Pencipta mu, Pencipta kita Aku tak sanggup bertingkah pemilik hingga lupa pada pemilik sesungguhnya. Kelak jika takdir baik mempertemukan kita, maka akan ada saatnya. Saat...

Melepaskan. Dilepaskan

Jadilah diam. Jadilah tenang. Jadilah prinsip. Jadilah ratu. Jadilah senyum. Jadilah bahagia. Berjanjilah. Akan baik-baik saja. Akan tetap menjalani hidup sebagaimana mestinya. Akan tetap menikmati hidup. Akan tetap ramai. Akan tetap utuh. Akan tetap berdiri. Akan tetap mendoakanku. Akan tetap percaya. Berjanjilah. Tidak akan ingkar. Tidak akan marah. Tidak akan menangis untukku. Tidak akan menyalahkan kisah. Tidak akan berhenti. Tidak akan patah. Tidak akan sendiri. Tidak akan lelah bermimpi. Meski tak lagi disini. Meski tak lagi kita. Meski tak lagi saling menggenggam. Meski kita harus kembali ke cerita semula. Ramadhan ke-4 1435 Hijiriah  call me soon if you read this.

Confession

You never see the way I looking to your eyes |  You never realise the love I feel inside |  Pain and sorrow than haunted me |  Cause words are left unsaid to you Sebenarnya bingung juga lagu ini dari siapa ke siapa. Iya kan? Pada akhirnya kalimat penutup kemarin hanyalah sebuah tanya. "Kenapa sekarang? Tak sedari dulu?" Kalau pertanyaan ini sebenarnya bukan buatmu, tapi buatku sendiri. Pada saat itu aku hanya yakin pada jawabanku. "Demi dirimu sendiri, jangan karena aku" Entah kau mengerti, entah tidak. Yang pasti kita berdebat tak penting lagi. Like always :') Pada satu titik, aku akhirnya merasa kehilanganmu. Merasa kehilangan seseorang yang ku ingin selalu ada tanpa perlu lelah merasa. Entah kamu? Aku merunduk lagi, meraba jawaban. Adakah aku salah? Untuk mencari pembenaran atas apa yang ku yakini sebagai jawaban terbaikku. Sesungguhnya setiap  perbuatan   tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (aka...

tentang rindu

Hai Ri.... Aku merindukanmu belakangan ini. Tapi tak kunjung jemariku mengetik kalimat pesan pendek untuk mengobati rinduku. Aku rindu masa ketika kita menjadi bebas sebebas yang kita mau. Kita menjadi pelakon yang memainkan semua drama dengan alur yang kita ciptakan. Kita menjadi penikmat jalanan dengan pohon rindang dan terik matahari siang. Aku rindu Ri. Dan semakin rindu ketika ku tau. Jarak memisah dan waktu berlalu cepat. Tak ada lagi cerita tentang jalan panjang. Tak ada lagi kicauan tentang kehebatan dunia. Tak ada lagi diskusi tentang mimpi. Tak ada lagi cerita malam menjelang pagi tentang nostalgia masa SMA. Aku terlampau sibuk dengan rutinitasku. Dan kamu tenggelam dengan duniamu. Di sudut hati yang kita jalin, aku tau masih tetap ada namaku dalam doamu dan berbayang wajahmu dalam tengadah tanganku. Aku rindu.

To: D. Subject: Untold

Hai D. Apa kabar? Entahlah... (aku baru sadar kalau suka sekali menyebut kata yang satu ini. Entah) Kau tau, aku sedang bosan. Untuk yang kesekian kalinya. Aku bosan berbicara dengan siapapun, tapi apa mau dikata, aku bukan Nurul si pendiam :'D Aku juga bosan dengan rutinitas yang itu lagi, itu lagi. Aku bosan dengan segala rencana yang sudah aku buat. Aku bosan menulis, aku bosan merapal, aku bosan membaca. Dan pada akhirnya yang ada hanyalah aku butuh tempat untuk pulang, berdiam diri memeluk lutut di sudut kamar atau mungkin sambil menatap senja. Aku hanya ingin berhenti. Pada satu titik dimana aku bisa menikmati kembali dunia dan segala keruwetannya. Tanpa perlu merasa kehilangan diriku sendiri. Ya D. Aku ingin berhenti. Aku ingin me-reschedule kembali hidupku ke titik nol. Dimana aku masih mampu berhenti, menarik nafas, dan melangkahkan kaki kembali. Aku lelah D. Teramat lelah dengan diriku sendiri. Aku lelah menjadi takut. Aku lelah kehilangan pegangan. Dan hingga de...

Perjalanan yang akan berhenti pada saat kembali

Image
Suatu hari kamu akan berhenti. Berhenti pada dia yang membuat duniamu membeku hanya dengan menatap wajahnya. Berhenti pada dia yang akhirnya mengalihkan seluruh perhatianmu hanya untuk mengagumi senyumnya. Berhenti pada dia yang mampu membuatmu berikrar: "dengan dialah akan ku akhiri perjalanan pendek ini, dan ku mulai perjalanan panjang hingga akhirnya aku kembali"

To: Wink. Subject: Rumah Baru

Image
Selamat atas rumah barumu. Sempat bertanya-tanya kenapa si Plain You itu benar-benar plain. Undangan BBM semalam dan sedikit penjelasan aneh itu cukup untuk membuat rinduku terobati. Iyaaaaaa.... gue rindu. Puas lo.... :p Kangen berat sama tulisan-tulisan anehmu itu. You are inspired Wink . Baca tulisanmu bikin otak jadi tiba-tiba punya jutaan kalimat untuk dituangkan. Bikin mood nulis balik lagi. Jadi kangen lagi nyampah di dunia maya, terlepas dari seringnya kita nyampah di Socmed. Sebenarnya tulisan ini dibuat untuk membalas tulisan yang judulnya pelarian itu. Kenapa pulak judulnya pelarian? Aku ini pemimpi Wink. Sejak dulu. Sejak aku menyukai matematika. Sejak aku memakai kacamata. Sejak aku mengenal cita-cita. Sejak aku masih berseragam putih-merah. Tapi aku ya aku. Pemimpi yang penakut. Kau tau kalau aku ini mudah sekali menangis untuk hal-hal bodoh. Dan belakangan aku memberanikan diri mengejar semua mimpi itu (lagi). Jika kau tanya gara-gara apa? Salah satunya gara-...

Sepotong liburan yang tak direncanakan ;)

Image
And i found her... Sahabat yang terpisah sejak SMP yang ternyata sudah punya 2 anak dan merupakan kakak ipar-nya mb' Diah. Dunia sesempit daun kelor :D

Gemba, 29 Desember 2013, 10.00 WIBT

Image
Barakallahulaka wabaraka'alaika wa jamaah bainakuma fii khair.. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Cepet dapat momongan mb', biar kita-kita punya ponakan baru. Jangan lupain doain kita jg... ^^ uhibbukifillah... :* oh ya, jadzakillah untuk liburan kemarin. Untuk rumah, keluarga, sawah, sunset, sunrise, semangka, udara pagi, pokoknya semuanya... semuanya jadi liburan paling menyenangkan, bikin betah gak mau pulang, bikin pengen balik lagi... di tunggu kedatangannya di Ambon... ;) Mas Vian & Mb Diah Me, Ama Asni, Mas Vian & Mb Diah, Ama Nani, Ama Nia

Surga itu bernama ujian

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS Al-Baqarah,2: 214) Beberapa minggu lalu aku memanjat sebuah do'a. Ternyata Allah tak mengabulkan. Aku mencoba bertanya kenapa, dan Allah pun memberikan jawaban pada ayat cinta-Nya diatas. Dan bersama do'a itu aku kemudian memahami. Dalam pandangan manusia terlihat sempit, sementara dimata Allah begitu lapang. Mungkin seperti begitulah beliau memahami, semua ujian ini hanya seperti jual beli biasa yang keuntungannya adalah Surga. Terbayar lunas bukan? Lalu aku kemudian bertanya lagi. Bagaimana denganku Allah? Bolehkah aku mengadakan ...
"Hai" "Hai... Apa Kabar?" "Entah" "Jawaban yang kurang tepat" "Hm....?" "Tak ada jawaban entah untuk pertanyaan apa kabar. Hanya ada baik atau tidak baik." "Aku tak tau" "Jawaban yang kadaluarsa" "Kamu masih seperti yang dulu. Sewot. Sok tau. Cerewet" "Dan kamu juga tak banyak berubah. Bagaimana kabarnya?" "Dan to the point" "Kamu tak mungkin menemuiku, well.. setelah sekian lama hanya untuk say hai bukan?" "Ada yang hilang... aku tak menemukan yang dulu aku rasakan?" "Bosan? Jenuh?" "Tidak sama sekali" "Mungkin karna kamu tidak mencari" "Should I?" Ada jeda yang cukup lama  "Sesungguhnya aku tak punya jawaban" "Percuma" "Tak ada yang sia-sia. Aku bisa bertemu denganmu. And more, kamu tak merindukanku?" "Menurutmu?" "Menurutku, kamu...
Image
Mari mengambil sedikit hikmah, terutama untuk diri saya sendiri. Lembah Badar,   17  Maret   624  Masehi, 17  Ramadhan  tahun ke-2 Hijriah Pasca Kemenangan Badar, Rasulullah SAW mengadakan musyawarah dengan para shahabat terkait tawanan perang.  Singkat cerita, Umar r.a menegaskan pendapatnya:  “Bunuh saja semua” Ah, sosok yang begitu tegas, hingga setanpun menyingkir dari jalan yang ia lalui.  Sementara Abu Bakar r.a dengan kelembutan hatinya memberikan pandangan lain:  “Mereka kan masih kerabat kita, kita suruh bayar tebusan saja” Dua Shahabat mulia yang begitu di cintai oleh Rasulullah SAW berseberangan pendapat.  Singkat cerita Rasulullah SAW cenderung kepada pendapat Abu Bakar r.a. Dan kisah selanjutnya turunlah ayat cinta-Nya. Ayat cinta yang membuat Rasulullah SAW dan Abu Bakar r.a menangis tersedu. Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu men...
Image
And happy belated day to me.. Gak ada pinta khusus. Kalaupun ada, biar saya saja sama Allah yang tau :’) Menginjakkan kaki ke angka 23 itu rasanya sesuatu. Gak ada juga perayaan, kecuali makan-makan dadakan sama pasukan Remas yang entah kenapa malam itu membentuk Formasi 10. Ini beberapa kenangan yang mereka tinggalkan untuk mengingat angka 23 itu. Juga kue ulang tahun yang juga terlambat Selasa kemarin. Do’a. Satu kata itu selalu mengiringi setiap kejutan yang ada. Entah dalam kicauan, reply, sms, ucapan, kartu, atau mungkin dalam sujud panjang mereka. Semoga Allah melimpahkan yang sama :’) Terima kasih. 22.05.2013, 17.10 Diantara perkiraan angka-angka.