Posts

Showing posts with the label Abu-abu

Melepaskan. Dilepaskan (2)

Aku mencintaimu sejak dulu. Sejak remah roti pertama di ujung koridor kelas. Aku mencintaimu sejak dulu. Sejak malam dengan api unggun di rerumputan hijau halaman sekolah. Aku mencintaimu sejak dulu. Sejak hujan merapal harum aspal sepanjang perjalanan pulang. Sejak itulah aku mencintaimu. Dalam diam berkepanjangan. Dalam doa tak berkesudahan. Hari ini cinta itu masih sama. Bahkan mungkin semakin meninggi menembus mimpi. Tapi hari ini aku ingin mencintaimu lebih. Sejak pertama aku mencintaimu, aku hanya belajar tentang diam. Aku hanya belajar mencintai tanpa mengasa dalam rasa. Tapi aku lupa belajar tentang satu hal. Melepaskan. Maka biarkanlah kali ini aku memahami itu dengan cara ku. Jika kau tanya kenapa, akan ku jawab dengan sederhana. Karna kamu bukan milikku, bukan milik siapapun, kecuali Pencipta mu, Pencipta kita Aku tak sanggup bertingkah pemilik hingga lupa pada pemilik sesungguhnya. Kelak jika takdir baik mempertemukan kita, maka akan ada saatnya. Saat...

Confession

You never see the way I looking to your eyes |  You never realise the love I feel inside |  Pain and sorrow than haunted me |  Cause words are left unsaid to you Sebenarnya bingung juga lagu ini dari siapa ke siapa. Iya kan? Pada akhirnya kalimat penutup kemarin hanyalah sebuah tanya. "Kenapa sekarang? Tak sedari dulu?" Kalau pertanyaan ini sebenarnya bukan buatmu, tapi buatku sendiri. Pada saat itu aku hanya yakin pada jawabanku. "Demi dirimu sendiri, jangan karena aku" Entah kau mengerti, entah tidak. Yang pasti kita berdebat tak penting lagi. Like always :') Pada satu titik, aku akhirnya merasa kehilanganmu. Merasa kehilangan seseorang yang ku ingin selalu ada tanpa perlu lelah merasa. Entah kamu? Aku merunduk lagi, meraba jawaban. Adakah aku salah? Untuk mencari pembenaran atas apa yang ku yakini sebagai jawaban terbaikku. Sesungguhnya setiap  perbuatan   tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (aka...
Hari ini aku ingin pulang lebih cepat. Menemuimu, menanyakan kabarmu. Bolehkah? Sekali saja, aku menangis di pundakmu tanpa alasan. Hanya ingin menangis melepas semua lelah yang sudah aku endap sekian lama.

Compromise :')

Anggap saja ini sebuah kompromi masa depan. Tidak ada anak manusia yang lahir langsung berlari. (ya iyalah...!!) Tidak ada orang yang jatuh tanpa sakit. Teori relativitas waktu (atau lebih suka saya sebut konsistensi atau mungkin unlimited), mengajarkan manusia untuk memahami bahwa hidup tak bisa lepas dari masa lalu, karna toh kita, pelaku-nya yang menciptakan cerita masa lalu itu sendiri. #mulaingawur Begitulah kemudian ketika manusia dihadapkan sebagai makhluk sosial. #soktau Berhubung saya dilahirkan sebagai anak yang lumayan cerewet *buah jatuh tak jauh dari pohonnya* Maka sms yang berdarah-darah itu terkirim kemudian ketiga monster yang dengan sangat baik hati menasehati panjang lebar dan hanya saya balas dengan tiga kata: capek, bosan, dan (maaf)  MUAK . Mungkin itulah gunanya mereka bertiga. Untuk menampung segala cerita yang berdarah-darah (haha, piss girls).. Tau dong Drama Korea BBF? Waktu Geum Jan Di berjanji sama Goo Jun Pyo: "aku tidak akan meninggalkanm...

What About Love ~ Lemar

What if I took my time to love you? What if I put no one above you? What if I did the things that really mattered? What if I ran through hoops of disaster? No one would care if we never made it We're in this alone so why don't we face it There is no room to blame one another We just need time to forgive each other What about love? What about feeling? What about all the things that make life worth living? What about faith? What about trust? And tell me baby...what about us? How can I give this love a new beginning? How can I stop the rain? It's never ending How do I keep my soul believing? Memories of how we should be keep calling I'll take the rivers rise I'll take the happy times I'll take the moments of disaster

Abu-abu

Kali ini semuanya serba mellow. Entah. Lebih mudah menulis ketika hati dihujani yang serba mellow. Bukan menangis tersedu, hanya sebuah rasa yang singgah dan berwarna abu-abu.. Bila esok tak lagi sama? Adakah jauh lebih baik dari hari ini? Mungkin benar hanya sepihak! Tapi, akan adakah keputusan lebih baik bila kita membicarakannya terlebih dahulu? Siapa yang memulai? Dan kapan? Mengapa kemudian si hati yang tersenyum ketir? Dan bukan kepalsuan jika kemudian minoritas dari kami berucap: "sudah saatnya pergi..." Ya! Hanya minoritas kami yang tak mau bablas dengan akhir yang kosong. Percayalah sobat! Kebanyakan hanya tersandung cinta bukan jatuh (MT) Tak kemudian aku menjadi benar dan bijaksana. No, i'm not a wise person. Tapi aku adalah pemimpi ulung yang akan menempatkan diriku pada posisi yang sama denganmu. Tak sama persis, namun aku cukup tau. Ketika hati dihujani jutaan rasa. Kagum, lalu rindu ,, hingga abu-abu,,, Someday you just wanna cry Duh Rabb...

Sometimes it’s too rain..

Sejak kapan aku menyukai hujan?? Ng.. mungkin sejak seorang sahabat (baca: musuh besar ) mengenalkanku pada hujan. Terlebih lagi ketika Bang Tere pernah menyinggung sebuah kalimat: “Orang yang membenci hujan adalah orang yang tak pernah membaca kitab-Nya”. No.. dulu aku bukan membenci hujan, tapi hanya panik tak beralasan. Aku takut kebanjiran. Apalagi bila hujan diiringi melodi petir dan geledek. Tambah ciutlah nyali ku. Bila malam tiba dan hujan turun seperti itu, maka aku akan terbangun dan mengendap-ngendap ke kamar mama-papa, tidur di bawah kaki mereka. ;) Cuaca kota kelahiranku tercinta, Ambon. Sejak Mei kemarin sepertinya hujan enggan berhenti, maka aku pun melanglang buana bersamanya. Hujan yang ritmis, hujan yang penuh, gerimis, rintik, hujan yang menari-nari. Bersama deadline yang sepertinya enggan menepi. Sometimes it’s too rain. Aku ditemani sisa-sisa hati, rindu yang tiba-tiba menyapa. Ngilu. Mellow. Perlahan. Kemudian terbentuk sebuah warna abu-abu. Kemana aku? Mu...