Posts

Hidup tak selalu bisa kamu prediksi. Hari ini kamu bercita-cita menjadi apa. Besok lusa kamu ternyata menjadi yang lain. Hari ini kamu ingin bagaimana. Besok lusa kamu malah melakukan yang lain. Jadi harus bagaimana? Jangan tanya padaku. Aku sendiri masih sampai pada tahap belajar yang selalu mendapat nilai "D". Aku tak lulus-lulus ujian. Yang aku tau saat itu dan hingga saat ini, aku sedang tak punya pilihan. Aku hanya sedang menjalani apa yang ditawarkan. Aku nikmati? Ya... kadang-kadang... Aku syukuri? Jika maksudmu adalah tanpa mengeluh, maka aku kira aku bukan orang yang cukup bersyukur... Lalu mengapa tak pergi? Aku ingin belajar, sebanyak yang aku bisa. Aku ingin bertahan, sesanggup yang aku bisa. Aku ingin tinggal, selama yang aku bisa. Aku ingin bersamamu, meski itu artinya aku harus menyerah pada mimpi-mimpiku sendiri. Mengapa? Karena apa yang menjadi mimpimu adalah mimpi terbesarku. Tak sebanding dengan mimpi-mimpiku sendiri. Maukah kamu menemani per...

Alasan

Aku kira aku hanya butuh tambahan alasan. Maka telah ku siapkan seribu alasan untuk tinggal. Tapi nyatanya aku masih ingin pergi. Lalu kusiapkan lagi seribu alasan lain. Nyatanya kutemukan seribusatu alasan untuk tetap pergi. Bahkan jika kulakukan seribu kali hal yang sama maka mungkin hasilnya akan tetap sama. Aku ingin pergi! Bagaimana caranya Ra? Bagaimana caranya agar aku bisa betah sepertimu? Apa alasanmu untuk tetap tinggal disini? Ada jeda yang cukup lama sebelum kamu berkata: Aku tak punya alasan untuk tinggal. Aku hanya ingin tinggal. Meski mungkin berat. Meski mungkin lebih banyak yang harus dikorbankan. Meski mungkin bosan, jenuh, lelah, bahkan muak. Aku akan tetap tinggal, tak akan kemana-mana. Aku tak pernah punya alasan untuk tetap tinggal. Aku hanya punya keinginan untuk tinggal. Bahkan jika suatu hari tak tersisa apapun kecuali setitik harapan, maka aku akan tetap tinggal. Dan mungkin kamu hanya perlu untuk seperti itu, sebuah keinginan untuk tinggal, Nu. Bukan ...

Lelaki Oktober

Padamu kata-kataku habis. Aku rindu.

Pinta

Jika mimpimu tak mampu membuatmu semakin dekat dengan Allah, maka mungkin mimpimu tak sebesar itu. Sebuah nasehat. Lupa dari siapa

Hujan Bulan Juni. Sebuah Novel

Image
Karena nungguin dia nongol di Toko Buku di Ambon itu kayak nungguin kamu... #eh nb: terpaksa pesan onlen sebelum mati penasaran

Dekat.

Image
Aku merasa kamu dekat. Tiba-tiba. Sudah sampai mana perjalananmu? Paris, Prancis. Pic by Hujan Semesta

Takut.

Image
Denmark. Pic by Hujan Semesta Aku takut menyebut namamu dalam doa. Rasanya candala. Takut jika aku patah. Gumpalan-gumpalan perasaan itu selalu ku sebut sebagai kagum. Hanya kagum. Pada sifat dan sikapmu. Juga cintamu pada-Nya. Sementara itu, cintaku pada-Nya ku bangun tertatih. Jatuh. Bangkit. Jatuh. Lalu bangkit lagi. Aku selalu berharap kelak bersama dia yang dapat menopang cintaku pada-Nya. Diakah kamu? Aku tak pernah tau. Belum saatku untuk tau. Aku yakin bahwa ada dia yang tertulis namanya di lauh mahfudz -ku. Seseorang yang tertakdir melengkapi sisa perjalanan duniaku, dan membersamaiku di jannah -Nya kelak. Diakah kamu? Asaku ku luruh sebatas kagum. Jika kelak tertakdir kita, akan ada pertemuan yang indah. Aku percaya. Jika dia bukanlah kamu, semoga warna yang ku diamkan bukanlah pekat yang mengerubungi hati. Bukan pula racun yang menenggelamkan cinta hakiki. Biar aku lebih banyak belajar. Menunggu adalah bagian dari per...