Posts

a year

Setahun perjalanan. Tentang orang asing yang lalu jadi orang paling penting. Yang surgaku ada pada restunya. Yang kepadanya saya harus berbakti. Yang semoga kelak bisa sama-sama di Jannah-Nya. Perkenalkan. Dialah yang berlabel SUAMIK. Yang zaman jombloh sering saya sebut pangeran. Yang sering saya tanyakan kapan datang. Yang bikin saya linglung dengan kedatangannya. Sudah sampai mana perjalananmu? Eh... tau-tau sudah sampe aja dia... *mau pake emoji tapi belum ngerti. haha Setahun. Kalo ukuran usia manusia itu masih balita. Masih belajar jalan. Ya begitulah kami. Masih belajar banyak. Apalah kami dibandingkan mereka yang sudah menjalani bertahun-tahun lamanya. Ngerasain yang kata orangtua asam-garam. Meski gak asam-asam amat. Meski gak asin-asin amat. Bagi orang yang melihat, kami adem ayem. Tapi yang namanya menikah. Dua kepala. Dua kepribadian. Dua sifat. Dua keluarga.. dan dua orang asing. Yang orang tau, kami mulus-mulus macam jalan tol. Tapi nyatanya macet sana sini sa...

Melewatkan 2017

Padahal banyak kisah. Padahal banyak yang terjadi. Tapi malah kehilangan banyak kata. Apa perlu masuk resolusi? Mari memulai kembali. 

Who am I? Why i'm here?

Yang saya tau hari ini akan berlalu dan semuanya akan selesai. All iz well. Yang saya tau, Allah memberikan ujian sesuai kesanggupan hamba-Nya, meski saya selalu merasa tidak sangup. Yang saya tau, saya belajar bersyukur, meski selalu mengeluh pada awalnya. Yang saya tau, pundak saya sanggup menahan bebannya, meski sebelumnya ia terguncang dengan menangis sendirian. Yang saya tau, pundak itu sering saya tepuk-tepuk sendirian sambil berujar "kamu sudah melakukan yang terbaik Nu" Yang saya tau, saya akan baik-baik saja selama ada Allah dan kalian. Terutama kamu. di tengah-tengah assessmen KPKU Sudah sampai mana perjalananmu?

Getting Old

"Kapan?" Hingga saya pun bosan dengan pertanyaan ini. Kadang dijawab seenaknya. Kadang dengan bercanda. Kadang sepenuh hati. Seringnya baper. Ingin bilang kalau seandainya saya punya jawaban yang pasti akan saya sampaikan dengan percaya diri. *lupakan* Apa bedanya masih 26 dan sebentar lagi 30? Masih 26 artinya berasa muda. Dan hampir 30 artinya berasa tua. Belakangan saya berada pada golongan yang kedua. Dulunya saya selalu di golongan pertama. Merasa usia hanyalah bilangan angka tak berarti. Walau pada akhirnya melihat kaki-kaki kecil berlari dan memakai seragam SD membuyarkan segalanya, I'm getting old. I am OLD *nyegir* Bukan karena tuntutan pertanyaan "kapan?" yang menjadi beban, tetapi menyadari keriput dan garis mata menghitam menyerang  bahwa tahun-tahun telah terlewati dengan begitu cepat tanpa ada banyak kenangan berarti. Mungkin. Ketika merasa melewatkan banyak hal. Kehilangan banyak hal. Melupakan banyak hal. Mengendapkan banyak hal. Meme...

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu ~Sapardi Djoko Damono Telah Juni dan sedang hujan. Sudah sampai mana perjalananmu?

Belajar tertawa

Aku belajar pada mereka yang tertawa. Mereka memilih menertawakan masalah sebelum masalah menertawakan mereka. Karena saat itu masalah mampu menghilangkan tawa mereka. Mereka memilih menitipkan masalah melalui doa-doa. Karena doa-doa selalu melapangkan jalan keluar saat masalah sepertinya tak punya celah untuk keluar. Mereka memilih berbaik sangka pada masalah. Meski tentunya itu sulit. Karena dengan berbaik sangka mereka akan lebih mudah mengambil pelajaran dan bersyukur. Mereka memilih menjalani kesibukan-kesibukan. Sepi ditengah keramaian. Berbincang dengan angin tentang diri sendiri. Me time . Karena dengan begitu masalah akan lebih mudah dipahami dari sisi yang berbeda. Mereka memilih banyak ber muhasabah diri. Karena mungkin masalah adalah ajang ujian untuk naik kelas keimanan. Lalu mereka menjadi orang-orang yang banyak menebar tawa, banyak bersujud, banyak bersyukur, banyak ber tafakkur , banyak ber muhasabah . Aku belajar pada mereka yang seperti itu. Bukan...

Lelaki Oktober pada Mei

Image
Ada seorang lelaki. Aku jatuh cinta padanya. Pada lebih dan kurangnya. Pada baik dan buruknya. Meski di mata orang lain dia bukanlah siapa-siapa, bagiku dia lelaki hebat yang begitu berharga. Aku mencintainya. Berkali-kali jatuh cinta padanya. Dan hari ini aku begitu merindukannya. Melebihi rinduku pada pada hari-hari sebelumnya. Ada seorang lelaki. Meski kini dia tak lagi ku temui dalam raga, aku tetap jatuh cinta padanya. Cinta pertama. Dan masih terus mencintainya. Sepenuh rindu dari anakmu yang kau beri nama dengan cahaya. Semoga aku menjadi cahaya untukmu kelak. hanya ingin bilang kalau hari ini cerah Pa :')

suatu hari nanti

Berjanjilah Nu... akan baik-baik saja. Setelah semua ini selesai, setelah semua hutang ini lunas, setelah kamu, dan aku cukup berani menantang badai. Kita akan pergi berdua saja. Melanglang buana, melihat dunia, menatap langit, lalu bersyukur yang banyak. Bahwa hidup masih mengizinkanmu menapak mimpi. Selamat berjuang :') hingga lusa kita bertemu lagi, teruslah baik-baik saja. Aku akan selalu menyemat namamu dalam doa.

Perjalanan

Perjalanan menyimpan rahasia-rahasia. Di perjalanan akan terkenang kesedihan-kesedihan. Akan teringat kebahagiaan-kebahagiaan. Akan ditemui impian-impian. Sementara rumah menyimpan kelegaan. Perjalanan kali ini banyak melintas tentangmu. Mungkin karena kamu memiliki semua itu dalam perjalananku. Kesedihan, kebahagiaan, dan impian. Lalu aku memilih memeluknya untuk segera pulang.

lelaki oktober pada februari

Belum jua oktober. Tapi aku merindukanmu lebih awal. Mungkin karena begitu banyak hal yang terlewat. Kaki-kaki mungil yang kini dapat berlarian mengelilingi rumah. Ocehan-ocehan yang dulu tak bermakna kini bisa ku ajak bicara. Lebih-lebih ketika mimpi terajut satu-satu. Semoga kau bangga melihatku berdiri sekarang. Meski masih goyah. Meski sesekali aku ingin berhenti.

tanpa pihak ketiga

Akan sia-sia kalau perasaan ini hanya melibatkan aku saja. Dan akan terlalu rumit jika melibatkan kita berdua. Bagaimana kalau kulibatkan Dia sebagai pihak kedua, aku dan kamu sebagai pihak pertama (atau bisa juga sebaliknya). Maka semua perasaan ini akan menjadi amat sederhana. Iya kan? Yang pasti urusan ini tak perlu melibatkan pihak ketiga. 
Hidup tak selalu bisa kamu prediksi. Hari ini kamu bercita-cita menjadi apa. Besok lusa kamu ternyata menjadi yang lain. Hari ini kamu ingin bagaimana. Besok lusa kamu malah melakukan yang lain. Jadi harus bagaimana? Jangan tanya padaku. Aku sendiri masih sampai pada tahap belajar yang selalu mendapat nilai "D". Aku tak lulus-lulus ujian. Yang aku tau saat itu dan hingga saat ini, aku sedang tak punya pilihan. Aku hanya sedang menjalani apa yang ditawarkan. Aku nikmati? Ya... kadang-kadang... Aku syukuri? Jika maksudmu adalah tanpa mengeluh, maka aku kira aku bukan orang yang cukup bersyukur... Lalu mengapa tak pergi? Aku ingin belajar, sebanyak yang aku bisa. Aku ingin bertahan, sesanggup yang aku bisa. Aku ingin tinggal, selama yang aku bisa. Aku ingin bersamamu, meski itu artinya aku harus menyerah pada mimpi-mimpiku sendiri. Mengapa? Karena apa yang menjadi mimpimu adalah mimpi terbesarku. Tak sebanding dengan mimpi-mimpiku sendiri. Maukah kamu menemani per...

Alasan

Aku kira aku hanya butuh tambahan alasan. Maka telah ku siapkan seribu alasan untuk tinggal. Tapi nyatanya aku masih ingin pergi. Lalu kusiapkan lagi seribu alasan lain. Nyatanya kutemukan seribusatu alasan untuk tetap pergi. Bahkan jika kulakukan seribu kali hal yang sama maka mungkin hasilnya akan tetap sama. Aku ingin pergi! Bagaimana caranya Ra? Bagaimana caranya agar aku bisa betah sepertimu? Apa alasanmu untuk tetap tinggal disini? Ada jeda yang cukup lama sebelum kamu berkata: Aku tak punya alasan untuk tinggal. Aku hanya ingin tinggal. Meski mungkin berat. Meski mungkin lebih banyak yang harus dikorbankan. Meski mungkin bosan, jenuh, lelah, bahkan muak. Aku akan tetap tinggal, tak akan kemana-mana. Aku tak pernah punya alasan untuk tetap tinggal. Aku hanya punya keinginan untuk tinggal. Bahkan jika suatu hari tak tersisa apapun kecuali setitik harapan, maka aku akan tetap tinggal. Dan mungkin kamu hanya perlu untuk seperti itu, sebuah keinginan untuk tinggal, Nu. Bukan ...

Lelaki Oktober

Padamu kata-kataku habis. Aku rindu.

Pinta

Jika mimpimu tak mampu membuatmu semakin dekat dengan Allah, maka mungkin mimpimu tak sebesar itu. Sebuah nasehat. Lupa dari siapa

Hujan Bulan Juni. Sebuah Novel

Image
Karena nungguin dia nongol di Toko Buku di Ambon itu kayak nungguin kamu... #eh nb: terpaksa pesan onlen sebelum mati penasaran

Dekat.

Image
Aku merasa kamu dekat. Tiba-tiba. Sudah sampai mana perjalananmu? Paris, Prancis. Pic by Hujan Semesta

Takut.

Image
Denmark. Pic by Hujan Semesta Aku takut menyebut namamu dalam doa. Rasanya candala. Takut jika aku patah. Gumpalan-gumpalan perasaan itu selalu ku sebut sebagai kagum. Hanya kagum. Pada sifat dan sikapmu. Juga cintamu pada-Nya. Sementara itu, cintaku pada-Nya ku bangun tertatih. Jatuh. Bangkit. Jatuh. Lalu bangkit lagi. Aku selalu berharap kelak bersama dia yang dapat menopang cintaku pada-Nya. Diakah kamu? Aku tak pernah tau. Belum saatku untuk tau. Aku yakin bahwa ada dia yang tertulis namanya di lauh mahfudz -ku. Seseorang yang tertakdir melengkapi sisa perjalanan duniaku, dan membersamaiku di jannah -Nya kelak. Diakah kamu? Asaku ku luruh sebatas kagum. Jika kelak tertakdir kita, akan ada pertemuan yang indah. Aku percaya. Jika dia bukanlah kamu, semoga warna yang ku diamkan bukanlah pekat yang mengerubungi hati. Bukan pula racun yang menenggelamkan cinta hakiki. Biar aku lebih banyak belajar. Menunggu adalah bagian dari per...
Lampu-lampu jalan. Temaram. Malam. Rindu. Pulang.

Musim gugur

Di negeri kami tak ada musin gugur. Namun dahan-dahan meranggas, menggugurkan daunnya. Mungkin karena pohon-pohon sudah tua. Para pembersih jalan dengan baju dan peralatan seadanya, satu-satu menyapu daun yang berserak. Bertaruh dengan peluh dan terik. Barangkali karena kita lupa dengan petuah lama. Kaya miskin adalah tentang materi, tetapi sederhana adalah sikap. Dua hal yang tak bisa disandingkan seenak jidat. Di negeri kami memang tak ada musin gugur. Namun dahan-dahan meranggas, menggugurkan daunnya. Mungkin karena pohon-pohon bosan menjadi teduh yang tak di anggap.