Posts

Hujan Bulan Juni. Sebuah Novel

Image
Karena nungguin dia nongol di Toko Buku di Ambon itu kayak nungguin kamu... #eh nb: terpaksa pesan onlen sebelum mati penasaran

Dekat.

Image
Aku merasa kamu dekat. Tiba-tiba. Sudah sampai mana perjalananmu? Paris, Prancis. Pic by Hujan Semesta

Takut.

Image
Denmark. Pic by Hujan Semesta Aku takut menyebut namamu dalam doa. Rasanya candala. Takut jika aku patah. Gumpalan-gumpalan perasaan itu selalu ku sebut sebagai kagum. Hanya kagum. Pada sifat dan sikapmu. Juga cintamu pada-Nya. Sementara itu, cintaku pada-Nya ku bangun tertatih. Jatuh. Bangkit. Jatuh. Lalu bangkit lagi. Aku selalu berharap kelak bersama dia yang dapat menopang cintaku pada-Nya. Diakah kamu? Aku tak pernah tau. Belum saatku untuk tau. Aku yakin bahwa ada dia yang tertulis namanya di lauh mahfudz -ku. Seseorang yang tertakdir melengkapi sisa perjalanan duniaku, dan membersamaiku di jannah -Nya kelak. Diakah kamu? Asaku ku luruh sebatas kagum. Jika kelak tertakdir kita, akan ada pertemuan yang indah. Aku percaya. Jika dia bukanlah kamu, semoga warna yang ku diamkan bukanlah pekat yang mengerubungi hati. Bukan pula racun yang menenggelamkan cinta hakiki. Biar aku lebih banyak belajar. Menunggu adalah bagian dari per...
Lampu-lampu jalan. Temaram. Malam. Rindu. Pulang.

Musim gugur

Di negeri kami tak ada musin gugur. Namun dahan-dahan meranggas, menggugurkan daunnya. Mungkin karena pohon-pohon sudah tua. Para pembersih jalan dengan baju dan peralatan seadanya, satu-satu menyapu daun yang berserak. Bertaruh dengan peluh dan terik. Barangkali karena kita lupa dengan petuah lama. Kaya miskin adalah tentang materi, tetapi sederhana adalah sikap. Dua hal yang tak bisa disandingkan seenak jidat. Di negeri kami memang tak ada musin gugur. Namun dahan-dahan meranggas, menggugurkan daunnya. Mungkin karena pohon-pohon bosan menjadi teduh yang tak di anggap.
Bolehkah aku meminta dia? Bolehkah aku menyebut namanya pada pinta?

#NulisRandom2015 #4 #30harimenulishujan #Day4

Hujan Pertama di Bulan Juni Kamu hanya perlu menikmatinya. Menutup mata sembari mengikuti irama tariannya. Meresapi dalam dalam nyanyiannya. Bila akhirnya hatimu gerimis bersama gerimisnya. Bila akhirnya pelupuk matamu basah bersama derasnya.. Larutlah. Tengadahkan tangan dan biarkan rintiknya menempus telapak. Berbisik tentang rindu yang sesak, tentang mimpi yang mengendap. Lalu seolah sedang memutar ulang cerita-cerita tentang kenangan. Gigabyte yang sama. Langit yang sama. Biru-abu-abu yang sama. Hujan yang sama. Jika suatu hari kita bersua dan kamu bertanya mengapa aku tak pernah lupa, maka inilah jawaban yang aku punya. Karena aku tak pernah belajar tentang melupakan. Aku hanya belajar tentang melepaskan. Dua hal yang berbeda yang mungkin tak pernah kamu mengerti, karena kamu... pada hari tu... menjadi yang dilepaskan...  Aku tak ingin lupa, karena dengan mengingatmu adalah caraku merindukanmu. Aku belajar menikmati sepenggal duniaku tanpamu.  Aku meme...