Posts

AL IKHWAN

Bismillahirrahmainirrahim… “kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada ALLAH… “ (3:110) Wangi cat dari gedung yang baru direhab. Setelah bertahun menjadi saksi perjalanan ratusan mahasiswa yang dinaunginya. Setelah bertahun digerus hujan, tertimpa panas, angin yang tak bersahabat. Menapaki beberapa sudut jalan yang sama. Ditemani pohon kecil yang sengaja ditanam untuk melindungi dari terik. Padahal sewaktu pertama kali ditanam seolah enggan tumbuh dan tetap ‘kekeuh’ dengan batangnya yang tak berdaun. Kini, ia menepuk dada bangga karena bisa menaungi setiap yang lewat disampingnya? Namun, untuk siapa? Toh yang lewat tak perduli, apalagi berterima kasih!. Sudut dejavu. Tempat yang ku lewati ribuan kali setahun lalu. Masih sama jua. Di lantai 2. Tempat yang selalu ku rindu. Tempat yang ketika aku tersungkur sujud yang terbayang adalah disini. Tempat teduh. Yang menjadi tujuan saat tak tau ...

JAKARTA AND THE STORY BEHIND

Jakarta… Hanya untuk para telaten, ulet, pekerja. Jika ingin malas maka akan tergilas. Jakarta, tidakkah kau jenuh menampung segala ingin penghunimu. Yang banyak ingin ini itu. Tidakkah kau merasa sudah seperti boneka yang dimainkan ‘anak kecil’ ? Seperti nenek tua berwajah keriput. Seperti tempat pembuangan yang kotor… “Mari Membangun Jakarta” Membangun apanya? Memangnya Jakarta masih kuat menampung inginmu? Kalau sampai ada slogan yang sama didaerahku, akan ku katakan : “Buat apa di bangun? Memangnya mau jadi seperti Jakarta? Sudahlah! Aku sudah cukup dengan macetnya, dengan gedung tingginya, dengan polusinya. Jangan tambah lagi! Bisa-bisa aku juga jenuh dengan tempat lahirku sendiri…” Jakarta… Bagaimana para pelancong desa mengira akan hidup lebih baik jika berada ditempatmu? Hidup baik macam apa? Ah, entah apa yang terlintas dalam pikiran mereka. Yang pasti aku melihatmu yang jenuh, yang keriput, yang penat, yang kusut, yang lelah dengan tingkah para penghunimu. Dan selalu saja ka...

review 9 tahun.....

Sejenak kembali ke masa 9 tahun silam… Pagi itu semua masih terlihat biasa. Pukul 3 dini hari saat melaksanakan rutinitas harian. Asalkan anak-anaknya tetap bisa sekolah dan makan. Dapur beralas tanah, berdinding dan berjendela kayu. Untuk pagi yang biasa itu, maka semua akan terlihat seperti biasa. Pukul 6 kurang. Saat berangkat menuju pasar membawa tumpukan jualan yang siap diedarkan. Berharap hari ini bisa laku keras. Jum’at cerah. Namun sakit hari itu membuatku tidak berangkat sekolah dan terbangun saat mendengar suara teriakan nenek. Ada apa? Maka jum’at itu berjalan cepat. Terjatuh di kamar mandi, lalu ia di papah ke kamar. Lesu. Lemas. Bisu. Wajah keriputnya. Tubuh ringkiknya. Senyumnya yang tetap hangat walau miring. Miris. Bahkan makanpun harus di suapi. Kaku. Sekilas aku mengintip di balik tirai kamar. Dia sedang disuapi bubur oleh mama yang meninggalkan jualan yang masih setengah di pasar. Sempat terlihat dia melirik dan tersenyum (senyum akhir) padaku. Segera saja ku t...

Tempat Teduh

Bismillahirrahmainirrahim… “kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada ALLAH… “ (3:110) Wangi cat dari gedung yang baru direhab. Setelah bertahun menjadi saksi perjalanan ratusan mahasiswa yang dinaunginya. Setelah bertahun digerus hujan, tertimpa panas, angin yang tak bersahabat. Menapaki beberapa sudut jalan yang sama. Ditemani pohon kecil yang sengaja ditanam untuk melindungi dari terik. Padahal sewaktu pertama kali ditanam seolah enggan tumbuh dan tetap ‘kekeuh’ dengan batangnya yang tak berdaun. Kini, ia menepuk dada bangga karena bisa menaungi setiap yang lewat disampingnya? Namun, untuk siapa? Toh yang lewat tak perduli, apalagi berterima kasih!. Sudut dejavu. Tempat yang ku lewati ribuan kali setahun lalu. Masih sama jua. Di lantai 2. Tempat yang selalu ku rindu. Tempat yang ketika aku tersungkur sujud yang terbayang adalah disini. Tempat teduh. Yang menjadi tujuan saat tak tau ...

55 : 13

Seperti pemutaran film di bioskop, namun semua berjalan lambat. Dan nyata! Yah! Memang nyata, pemuataran film ‘masa lalu’. Saat aku meniti jalan baru. Menghentikan mimpi-mimpi yang pernah coba ku rintis, sambil mulai merajut mimpi-mimpi baru,,,,, bahkan ocehan ‘bapak’ di depan tak lagi menjadi perhatianku. Ingin sekali ku lihat wajah 24 orang di sekelilingku. Sahabat (juga keluarga ke-2) yang merintis mimpi ini bersama. Ini awal atau akhir?? Akhir dari sebuah perjuangan. Penantian panjang. Do’a yang tiada henti. Sujud pada bulanMu yang indah dan malam menjelang pagi selama ini. .. ‘maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?’ (55:13) Begitu mendengung nada indah itu. Aku rindu.... Inilah awal. Awal dari sebuah pelajaran berharga lagi. Awal dari sebuah proses panjang.. hm... mungkin 36 tahun kedepan. Pengabdian yg tak pendek tentunya!! Masih sedikit yang ku tau. Sangat !! Lalu?? Film itu masih berputar jua. Masih lamakah? Di sela gelak tawa dan senyum yang mengemba...

catatan hati seorang wanita

By Sitra Dewi Elka Friday, September 17, 2010 at 12:32pm Catatan hati seorang wanita, Dapatkah aku menyebut diri sebagai seorang wanita? Ataukah aku hanya gadis ringkih yang terkontaminasi dunia? Menjadi perempuan mungkin mudah, tapi tidak dengan menjadi wanita Kamilah yang paling tahu tentang kehidupan, Kamilah yang paling ahli dalam menyembunyikan perasaan, Kamilah yang paling mengerti arti sebuah harapan, Karena kamilah yang paling sering menanti, menangis, dan mengharap. Feminis? Tidak juga. Hanya sedikit keluh. Kesah. Dan mungkin sedikit gelisah. Feminis? Oh, untuk apa? Bahkan disaat tertentu, aku benci menjadi wanita. Aku benci dengan asa yang terus melesap. Hilang. Hampir tak berbekas. Aku benci dengan senyum getir menahan desakan air mata. Aku benci dengan sikap manis disaat hati sedang ingin berontak. Aku benci dengan tanggung jawab besar yang tak bisa hilang dari pundakku, sekeras apa aku menyapunya pergi. Inilah kami, yang selalu berharap tapi pada saat...

LUCU_YA ???

Lucu ya, uang Rp 20,000an kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak amal mesjid, tapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket. Lucu ya, 45 menit terasa terlalu lama untuk berzikir, tapi betapa pendeknya waktu itu untuk pertandingan sepakbola. Lucu ya, betapa lamanya 2 jam berada di Masjid, tapi betapa cepatnya 2 jam berlalu saat menikmati pemutaranfilm di bioskop. Lucu ya, susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat berdoa atau sholat, tapi betapa mudahnya cari bahan obrolan bila ketemu teman. Lucu ya, betapa serunya perpanjangan waktu dipertandingan bola favorit kita, tapi betapa bosannya bila imam sholat Tarawih bulan Ramadhan kelamaan bacaannya. Lucu ya, susah banget baca Al-Quran 1 lembar saja, tapi novel best-seller 100 halaman pun habis dilalap. Lucu ya, orang-orang pada berebut paling depan untuk nonton bola atau konser, tapi berebut cari shaf paling belakang bila Jumatan agar bisa cepat keluar. Lucu ya, kita perlu undangan pengajian 3-4 minggu ...