Posts

review 9 tahun.....

Sejenak kembali ke masa 9 tahun silam… Pagi itu semua masih terlihat biasa. Pukul 3 dini hari saat melaksanakan rutinitas harian. Asalkan anak-anaknya tetap bisa sekolah dan makan. Dapur beralas tanah, berdinding dan berjendela kayu. Untuk pagi yang biasa itu, maka semua akan terlihat seperti biasa. Pukul 6 kurang. Saat berangkat menuju pasar membawa tumpukan jualan yang siap diedarkan. Berharap hari ini bisa laku keras. Jum’at cerah. Namun sakit hari itu membuatku tidak berangkat sekolah dan terbangun saat mendengar suara teriakan nenek. Ada apa? Maka jum’at itu berjalan cepat. Terjatuh di kamar mandi, lalu ia di papah ke kamar. Lesu. Lemas. Bisu. Wajah keriputnya. Tubuh ringkiknya. Senyumnya yang tetap hangat walau miring. Miris. Bahkan makanpun harus di suapi. Kaku. Sekilas aku mengintip di balik tirai kamar. Dia sedang disuapi bubur oleh mama yang meninggalkan jualan yang masih setengah di pasar. Sempat terlihat dia melirik dan tersenyum (senyum akhir) padaku. Segera saja ku t...

Tempat Teduh

Bismillahirrahmainirrahim… “kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada ALLAH… “ (3:110) Wangi cat dari gedung yang baru direhab. Setelah bertahun menjadi saksi perjalanan ratusan mahasiswa yang dinaunginya. Setelah bertahun digerus hujan, tertimpa panas, angin yang tak bersahabat. Menapaki beberapa sudut jalan yang sama. Ditemani pohon kecil yang sengaja ditanam untuk melindungi dari terik. Padahal sewaktu pertama kali ditanam seolah enggan tumbuh dan tetap ‘kekeuh’ dengan batangnya yang tak berdaun. Kini, ia menepuk dada bangga karena bisa menaungi setiap yang lewat disampingnya? Namun, untuk siapa? Toh yang lewat tak perduli, apalagi berterima kasih!. Sudut dejavu. Tempat yang ku lewati ribuan kali setahun lalu. Masih sama jua. Di lantai 2. Tempat yang selalu ku rindu. Tempat yang ketika aku tersungkur sujud yang terbayang adalah disini. Tempat teduh. Yang menjadi tujuan saat tak tau ...

55 : 13

Seperti pemutaran film di bioskop, namun semua berjalan lambat. Dan nyata! Yah! Memang nyata, pemuataran film ‘masa lalu’. Saat aku meniti jalan baru. Menghentikan mimpi-mimpi yang pernah coba ku rintis, sambil mulai merajut mimpi-mimpi baru,,,,, bahkan ocehan ‘bapak’ di depan tak lagi menjadi perhatianku. Ingin sekali ku lihat wajah 24 orang di sekelilingku. Sahabat (juga keluarga ke-2) yang merintis mimpi ini bersama. Ini awal atau akhir?? Akhir dari sebuah perjuangan. Penantian panjang. Do’a yang tiada henti. Sujud pada bulanMu yang indah dan malam menjelang pagi selama ini. .. ‘maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?’ (55:13) Begitu mendengung nada indah itu. Aku rindu.... Inilah awal. Awal dari sebuah pelajaran berharga lagi. Awal dari sebuah proses panjang.. hm... mungkin 36 tahun kedepan. Pengabdian yg tak pendek tentunya!! Masih sedikit yang ku tau. Sangat !! Lalu?? Film itu masih berputar jua. Masih lamakah? Di sela gelak tawa dan senyum yang mengemba...

catatan hati seorang wanita

By Sitra Dewi Elka Friday, September 17, 2010 at 12:32pm Catatan hati seorang wanita, Dapatkah aku menyebut diri sebagai seorang wanita? Ataukah aku hanya gadis ringkih yang terkontaminasi dunia? Menjadi perempuan mungkin mudah, tapi tidak dengan menjadi wanita Kamilah yang paling tahu tentang kehidupan, Kamilah yang paling ahli dalam menyembunyikan perasaan, Kamilah yang paling mengerti arti sebuah harapan, Karena kamilah yang paling sering menanti, menangis, dan mengharap. Feminis? Tidak juga. Hanya sedikit keluh. Kesah. Dan mungkin sedikit gelisah. Feminis? Oh, untuk apa? Bahkan disaat tertentu, aku benci menjadi wanita. Aku benci dengan asa yang terus melesap. Hilang. Hampir tak berbekas. Aku benci dengan senyum getir menahan desakan air mata. Aku benci dengan sikap manis disaat hati sedang ingin berontak. Aku benci dengan tanggung jawab besar yang tak bisa hilang dari pundakku, sekeras apa aku menyapunya pergi. Inilah kami, yang selalu berharap tapi pada saat...

LUCU_YA ???

Lucu ya, uang Rp 20,000an kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak amal mesjid, tapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket. Lucu ya, 45 menit terasa terlalu lama untuk berzikir, tapi betapa pendeknya waktu itu untuk pertandingan sepakbola. Lucu ya, betapa lamanya 2 jam berada di Masjid, tapi betapa cepatnya 2 jam berlalu saat menikmati pemutaranfilm di bioskop. Lucu ya, susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat berdoa atau sholat, tapi betapa mudahnya cari bahan obrolan bila ketemu teman. Lucu ya, betapa serunya perpanjangan waktu dipertandingan bola favorit kita, tapi betapa bosannya bila imam sholat Tarawih bulan Ramadhan kelamaan bacaannya. Lucu ya, susah banget baca Al-Quran 1 lembar saja, tapi novel best-seller 100 halaman pun habis dilalap. Lucu ya, orang-orang pada berebut paling depan untuk nonton bola atau konser, tapi berebut cari shaf paling belakang bila Jumatan agar bisa cepat keluar. Lucu ya, kita perlu undangan pengajian 3-4 minggu ...

Muslimah, sebuah puisi...yang menggugah jiwa

Image
Saat kau lelah tak berdaya karena usaha yang gagal, Allah tahu betapa gigih engkau telah berusaha.. Ketika sekian lama kau menangis dan batinmu menderita, Allah telah menghitung tangismu.. Saat kau rasa hidupmu tak menentu dan waktu terus meninggalkanmu, Allah menunggu bersamamu.. Ketika kau kesepian dan kawanmu telah terlalu sibuk meski hanya tuk menelpon, Allah berada disisimu.. Saat kau telah mencoba segala sesuatu dan tak tahu harus berbuat apa, Allah memiliki jawabannya.. Saat tiba-tiba hidupmu lebih cerah dan kau temukan secercah harapan, Allah telah berbisik kepadamu.. Ketika semuanya berjalan lancar dan banyak yang harus kau syukuri, Allah telah memberkatimu.. Saat kegembiraan datang dan kau terasa terpesona, Allah tersenyum kepadamu.. Ketika kau punya cita-cita dan mimpi tuk diwujudkan, Allah telah membuka matamu dan memanggil namamu.. from: http://myquran.com/forum/entry.php/165-Muslimah-sebuah-puisi...yang-menggugah-jiwa-)

Mukena_Lusuh

Mukena itu sudah tak berwarna putih cerah lagi. Apalagi malam Ramadhan itu (juga malam-malam saat Ramadhan sebelumnya) rasanya ia tak layak disandingkan. Warna pudarnya tak mampu menyaingi warna mereka yang begitu cerah. Merah, kuning, hijau, biru, ungu, jingga… Tapi ia tetap setia menemani sang hamba tersungkur dalam sujud dan do’a panjang selama 10 tahun ini. Semenjak mukena itu kebesaran hingga rasanya sudah sesak untuk dipakai. Tapi tetap saja mukena itu setia dari Ramadhan ke Ramadhan selanjutnya lagi, menemani sang hamba menegakkan fardhuNYA. Mengusap air mata sang hamba ketika menangis tersedu dalam malam-malam yang panjang. Mukena lusuh tak jua lelah. Sementara sang hamba meminta iman dan islam yang tak berkesudahan… “bukankah surgaNYA tak DIA beri karena mukenamu, tapi karena yang kamu lakukan dengan mukenamu…” Daarun Na’im, menjelang tarawih, 22.08.2010 *instrumental do'aku_Hadad Alwi